Tentang Business Model Canvas (BMC)

Tentang_Business_Model_Canvas_BMC

Business model canvas menjadi sangat tren akhir-akhir ini seiring tren nya startup di masyarakat, terutama dikalangan anak muda dan pelaku digital. 

Di perkembangan teknologi yang sangat pesat sekarang, para pelaku startup tidak hanya dituntut untuk melek teknologi, punya ide yang bagus, punya produk yang bagus, tetapi harus memiliki model bisnis yang bagus untuk menciptakan sebuah produk yang benar-benar mempunyai nilai bagi pelanggan.

Perkenalan Dengan Business Model Canvas

Berawal dari akhir tahun 2016 saya mengenal startup dan membangun tim untuk membuat sebuah produk yang menurut kami ini adalah sebuah produk yang memiliki nilai, pangsa pasar yang luas dan menjanjikan bagi pelanggan.

Pada pertengahan 2017 kami berhasil membuat sebuah produk yang menurut kami memiliki nilai tinggi.

Kami melakukan penawaran kepada beberapa instansi untuk memakai produk kami. Sampai akhirnya salah satu instansi setuju untuk menerapkan produk kami.

Namun, selang beberapa bulan, instansi tersebut tidak memberi kejelasan terkait kelanjutan apa yang telah dibicarakan.

Lihat produk tersebut : Portofolio Sevenpion

Evaluasi produk pun segera kami lakukan. Dan yang terjadi adalah kami tidak mengerti bagaimana produk itu bisa dipasarkan.

Apakah produk itu benar-benar menyelesaikan masalah bagi pelanggan kami? apakah pelanggan kami memerlukan produk itu?. Hampir dari semua pertanyaan yang dilontarkan akan membuat kebingungan bagi kami sendiri.

Apa itu Business model canvas ?

Sekitar pertengahan 2017 kami dikenalkan tentang Business Model Canvas (BMC), waktu dikenalkan tentang BMC kami belum mengenal istilah itu, hari itu benar-benar kami baru mengenal istilah BMC. Jadi apa itu BMC???

Business Model Canvas dikembangkan oleh Alex Osterwalder dan Yves Pigneur. BMC adalah sebuah konsep model bisnis yang didalamnya memungkinkan sebuah tim untuk menggambarkan, merancang, mengatur strategi dan proses bisnis mereka.

Sembilan komponen dalam Business model canvas

1. Customers segments (Segmentasi pasar) 

Customers segments akan menjelaskan untuk siapa kita membuat nilai? atau siapa yang akan menjadi pelanggan kita?

Sebagi contoh, GO-JEK Indonesia mereka memiliki segmentasi pasar untuk pelajar sekolah, pekerja kantoran, pengguna transportasi umum, dan generasi melek internet.

2. Value Proporsitions (Proposi nilai)

Value proporsitions menjelaskan tentang nilai plus yang ditawarkan oleh perusahaan baik itu dari produk ataupun layanan.

Sebagi contoh, GO-JEK Indonesia mempunyai Value proporsitions berupa menyediakan transportasi massal yang berkualitas, mudah, serta cepat diakses dengan harga yang terjangkau.

3. Channels (Jaringan)

Channels mendiskripsikan bagaimana perusahaan bisa berkomunikasi dan menjangkau pelanggannya sesuai dengan customer segments dan value proporsitions yang telah ditawarkan.

Sebagi contoh, GO-JEK Indonesia menjangkau pelanggannya melalui aplikasi gojek, iklan billboard, testimoni pengguna, dan iklan-iklan di media digital.

4. Customer Relationships (Hubungan dengan pelanggan) 

Customer relationships menjelaskan jenis hubungan antara perusahaan dengan segmentasi pasar tertentu. Tujuan dari customers relationships ini ada 3, yaitu untuk mendapatkan pelanggan, mempertahankan pelanggan dan menaikkan penjualan.

Sebagai contoh GO-JEK Indonesia menerapkan diskon dan promo yang besar bagi penggunanya.

5. Revenue Streams (Aliran pendapatan)

Revenue streams merupakan gambaran kas perusahaan dari operasional sebuah produk/jasa yang ditawarkan ke pelanggan berdasarkan segmentasinya.

Setiap segmentasi pasar memiliki mekanisme yang berbeda-beda. Perusahaan bisa bertanya pelanggan akan bersedia membayar berapa jika perusahaan memberikan nilai tertentu yang ditawarkan. Revenue streams bisa didapatkan perusahaan dari penjualan aset, biaya berlangganan, biaya lisensi dan iklan.

Sebagai contoh GO-JEK Indonesia mendapatkan aliran kas dari pengguna jasa transportasi gojek dan pengisian gopay. Spotify mendapatkan revenue streams dari biaya berlangganan. Microsoft mendapatkan revenue streams dari penjualan lisensi software nya. Dan Google mendapatkan revenue streams dari biaya beriklan pelanggan mereka melalui Google Ads.

6. Key Resources (Sumber daya inti)

Key resources menjelaskan sumberdaya utama dari perusahaan untuk melakukan kegiatan operasional. Key resources ini juga akan memudahkan perusahaan untuk menciptakan value proporsitions. Sumber daya utama ini bisa berupa fisik, intelektual, manusia ataupun finansial. 

Sebagai contoh GO-JEK Indonesia memiliki sumber daya inti seperti aplikasi gojek, google maps dan infrastruktur server.

Baca juga : Menciptakan Nilai dan Menangkap Kembali Nilai dari Pelanggan

7. Key Activities ( Kegiatan utama)

Key activities menjelaskan kegiatan utama yang harus dilakukan perusahaan untuk menjalankan model bisnis. Key activities bisa dikategorikan menjadi 3 macam, yaitu pemecahan masalah, produksi atau platform. 

Sebagai contoh GO-JEK Indonesia memiliki aktivitas utama berupa menghubungkan driver dengan penumpang dan manajemen data pengguna.

8. Key Partnership (Mitra)

Key partnerships merupakan mitra yang dapat membantu perusahaan untuk mengoptimalkan model bisnis yang sedang dijalankan. Tujuan dari dibentuknya mitra adalah perusahaan tidak bisa berdiri sendiri, mengurangi resiko, menurunkan biaya produksi dan memperoleh sumber daya bantuan dalam menjalankan model bisnis.

Sebagai contoh GO-JEK Indonesia memiliki mitra pengemudi, tanpa pengemudi, gojek tidak akan berjalan karena mereka hanya menyediakan aplikasi. 

9. Cost Sturcture (Struktur Biaya)

Cost structure merupakan biaya yang harus dikeluarkan dalam menjalankan model bisnis, dari menciptakan nilai sampai menangkap nilai itu kembali dari pelanggan. Cost structure tergantung dari segmentasi pasar yang diterapkan perusahaan.

Misalnya Garuda Indonesia mempunyai segmentasi menegah ke atas yang mengedepankan pelayanan, maka biaya yang akan dikeluarkan akan lebih mahal. Begitu juga sebaliknya Lion air yang menpunyai segmentasi menegah ke bawah yang tidak terlalu mengedepankan pelayanan, maka biaya yang dikeluarkan akan lebih sedikit.

Jadi seberapa pentingkah business model itu untuk bisnis? sangat penting, karena produk saya pernah tidak laku karena menyepelekan/belum mengenal model bisnis. 

Bagi teman-teman yang sudah terlanjur membuat produk tanpa memikirkan model bisnisnya seperti saya diatas, ada baiknya teman-teman kaji lebih ulang lagi terkait model bisnisnya. 

Ada satu kalimat yang dikatakan teman saya ketika itu “Kalian yang sudah terjun duluan membuat produk tanpa memikirkan model bisnisnya tidak akan salah, melainkan akan mendapatkan pelajaran untuk lebih baik lagi”.

Demikian sedikit tulisan singkat saya hari ini tentang Business Model CanvasSemoga bermanfaat bagi saya dan teman-teman pembaca dan bisa menjadi acuan bagi saya jika mulai lupa dengan materi ini. Jika ada kritik dan saran, mohon bisa disampaikan pada kolom komentar atau pada halaman Kontak. Terima kasih.

Referensi 1 : Dictio

Referensi 2 : Asee

Jika Anda suka jangan lupa untuk bagikan :

You May Also Like

About the Author: khairil

Saya seorang yang sedang belajar digital marketing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *